perbedaan antara pengusaha dan karyawan

✔ Perbedaan Antara Pengusaha dan Karyawan

Perbedaan antara Pengusaha dan Karyawan lebih pada pola pikir dan yang diakukan. Yuks simak dan pahami untuk bahan pengetahuan bagi kita yang mungkin masih terjebak dalam pola pikir seperti ini.

Perbedaan Antara Pengusaha dan Karyawan

Walaupun secara pengetahuan umum orang sudah bisa memaknai Perbedaan Pengusaha dan Karyawan, tetapi saya yakin masih ada yang ingin tau lebih jelas sebenarnya seperti apa Perbedaan Seorang Pengusaha dan Karyawan itu.

Nah kali ini saya akan sedikit menjabarkannya untuk Anda, Jika pertanyaan diatas Anda menjawab “Pengusaha memiliki usaha sendiri”, mungkin Anda masih kurang tepat.

Anda perlu tahu, untuk menjadi pengusaha tidak harus anda sebagai pemilik dari usaha tersebut, Anda bisa menjadi Akuntan di sebuah akuntan publik misalnya namun Anda masih bisa disebut sebagai seorang pengusaha juga.

Perbedaan terbesar antara Pengusaha dengan Karyawan sebenarnya adalah ada pada pola pikirnya.

Yuks teruskan membaca poin-poin dibawah ini;

1. Pengusaha Fokus Mengasah Kemampuan, Sedangkan Karyawan Fokus Memperbaiki Kelemahannya

Jika Anda pernah mendatangi sebuah Interview kerja, mungkin Anda saja pernah mendengar pertanyaan spt berikut ini:

“Apa yg akan Anda lakukan/kerjakan utk bisa memperbaiki atau memperkuat kelemahan Anda itu?”

Hal ini jelas merupakan pertanyaan yang masuk logika, terutama bagi karyawan. Banyak dari calon Karyawan berpikir bahwa kelemahan ada buruknya dan merasa itu harus segera diperbaiknya.

Tapi ternyata beda pada pengusaha.

Seorang mental Pengusaha mereka tidak berfokus untuk mengasah kelemahannya itu. Mereka paham apa kemampuan dirinya, lalu fokus untuk terus mempertajam keampuannya itu agar kekuatannya semakin kuat, lalu akan mencari rekan (baca:karyawan) yang jauh lebih baik di bidang kelemahannya yg ada pada dirinya.

2. Pengusaha Fokus Menghasilkan Sebuah Produk yang Mungkin Tidak Sempurna, Tapi Karyawan Berfikir Lebih Perfeksionis dan Ideal

Perfeksionis dan Ideal

Seorang Karyawan hampir akan merasa selalu berada didalam pengawasan Bos (baca: Pengusaha/Atasan), dan mengejar utk bekerja sebaik mungkin serta ingin pekerjaannya menjadi Sempurna. Namun kebanyakan mereka bekerja hanya untuk mendapatkan penilaian yang bsik dari Bos/Atasan.

Padahal seorang Pengusaha dimanapun biasanya mengerjakan sesuatu dengan tidak sempurna (Fokus Menghasilkan produk).

Tapi jangan salah, hal ini bukan berarti seorang Pengusaha akan mengirimkan Produknya yang tidak sempurna (buruk) ke konsumen.

Dia akan berfikir lebih baik bekerja dan gagal, lalu memperbaiki lagi, bekerja, gagal, dan memperbaikinya lagi daripada tidak bekerja sama sekali oleh sebab menunggu semuanya jadi sempurna.

3. Seorang Pengusaha Akan Berkata “Tidak” Pada Kesempatan, Sedangkan Karyawan Selalu Berkata “Ya”

Investor terkemuka Dunia dan Dia juga salah satu orang terkaya Dunia Warren Buffet, mengatakan “Perbedaan antara orang sukses dengan orang yang sangat sukses ialah orang yang sangat sukses bisa berkata “Tidak” ke hampir semua hal”.

Pengusaha sering berkata tdk untuk tetap menjaga Fokus mereka. Mereka akan selalu Fokus dan Fokus pada tujuannya.

Ide kreatifnya tidak mudah diganggu oleh ide-ide lain yg mungkin bisa mengalihkan perhatian dari ide utamanya yang Dia punya.

Sementara Karyawan atau orang biasa kebanyakan takut untuk berkata “Tidak” pada kesempatan baru karena mereka bisa kehilangan kesempatan besar itu yang dipikirnya tidak akan datang kedua kali.

4. Seorang Pengusaha Akan Mendelegasikan, Karyawaan Akan Mengerjakan Semuanya Sendiri

Pengusaha selalu mencari cara untuk mengalihkan perkerjaan dari tangan mereka. Dan mereka sangat menghargai waktunya, dan hanya Fokus melakukan pekerjaan mereka bisa lakukan.

Karena seorang Pengusaha ingin setiap pekerjaan dikerjakan oleh ahlinya dan terbaik di bidangnya.

Steve Jobs, tidak akan bisa membangun Perusahaan Apple menjadi sebesar saat ini jika Dia mengerjakan pemrograman sendiri, atau merakit komputer sendiri, atau menjual produknya juga sendiri, atau bahkan seperti mengecek absensi Karyawannya oleh dirinya.

Tapi Ia hanya berfokus pada hal-hal terpenting saja, dan pekerjaan itu Dia delegasikan kepada yang lain sesuai bidang keahliannya.

Sementara Karyawan umumnya lagi memiliki pemikiran yang berlawanan dari hal diatas.

Mereka akan mencoba melakukan semuanya sendiri selagi bisa, dan berfikir tidak ahlinya pun bisa mengerjakannya (masih berfikir itu bukan kelemahannya).

Dan masih mencoba mengetahui setiap aspek sampai detail. Dan motivasi favoritnya adalah “Jika mau hasilnya baik, lakukanlah sendiri selagi bisa” kurang lebih itulah kalimat favorit karyawan.

5. Pengusaha Mono Tasking, Karyawan Multi Tasking

Diluar sana banyak sekali penelitian yg hasilnya orang berusaha mempelajari untuk bisa Multitasking. Tapi tidak disadari, belajar banyak agar bisa mengerjakan banyak pekerjaan hanya membuat Fokus kita terpecah dan tidak efektif (dalam pekerjaan), karena untuk mengerjakan lebih dari satu pekerjaan disaat yang sama hasil/kualitasnya akan berbeda.

Artian diatas bukan membatasi banyak belajar dan tau banyak pada suatu pekerjaan, tetapi mengerjakan banyak hal dalam satu waktu hasilnya akan sangat berbeda jika hanya Fokus pada sedikit hal/pekerjaan.

Pengusaha menyadari bahwa Multitasking tidak begitu baik jika menginginkan hasil yang jauh lebih baik, sehingga mereka berfokus pada satu hal besar yang didepan mata.

Sementara pada Karyawan mereka akan berusaha untuk bisa Multitasking, karena mereka beranggapan dengan melakukan banyak hal secara bersamaan hasilnya lebih banyak dan perhatian Bos/Atasan akan tertuju pada dirinya.

6. Pengusaha Suka Dengan Resiko, Karyawan Ingin Menghindarinya

Jika Anda bertanya pada seorang Karyawan, mengapa mereka tidak mencoba memulai usahanya sendiri (berdagang, berwiraswasta) kebanyakan mereka akan menjawab alasan-alasam seperti:

  • Modalnya darimana?
  • Bagaimana keberlangsungannya?
  • Bagaimana kalau gagal?
  • Bagaimana jaminan kesehatannya?
  • dan lain sebagainya

Karyawan yg akan memulai Bisnis biasanya banyak sekali pertimbangannya, meskipun sudah sebenarnya mempunyai modal cukup.

Ketakutan dengan resiko-resiko menjadikan diri mereka tidak bergerak dan berani mengambil resiko akan kemungkianan gagal. Semua kita tau semua yang akan memulai sebuah Usaha harus siap mental dan resiko.

Sebaliknya pada jiwa seorang Pengusaha, Dia lebih menyukai tantangan, hal baru dan tentu Resiko. Makanya memperbanyak pengetahuan dan relasi jadi salah satu kunci juga untuk mereka.

Tidak adanya Resiko, berarti tidak ada tantangan dan belajar.

Quote by ― Peter F. Drucker

Ketika anda melihat suatu bisnis yang sukses, seseorang telah melakukan keputusan yang sangat berani.

Orang yang tidak mengambil risiko umumnya membuat dua kesalahan besar dalam setahun.

7. Pengusaha Umumnya Mempercayai Musim, Sedangkan Karyawan Lebih Percaya Keseimbangan

Tentu akan menyenangkan jika menemukan keseimbangan dalam kerja dalam kehidupan ini.

Pagi berangkat kerja, sore hari pulang, dan malamnya jika tak begitu lelah bisa berjalan-jalan atau santai bersama keluarga tercinta. Saya rasa seperti itu mimpi setiap kebanyakan Karyawan.

Berbeda pada cara Pengusaha, dia tidak berpikir akan hal Keseimbangan tersebut segera tercapai/diperoleh.

Dari pada fokus mencari Keseimbangan, mereka akan lebih percaya untuk memulai suatu hal baru, dan harus ada yang dikorbankan yaitu keluarga dan waktu.

Mereka lebih percaya di dalam kehidupan ini yang akan terus berganti seperti halnya musim. Mereka tidak mau mengorbankan sesuatu hal penting untuk masa depannya demi sebuah kesenangan sebelum impiannya tercapai atau sistem Usahanya berjalan tanpa kehadirannya di kantor.

Dan akan menunda atau merencanakan ulang beberapa lama sampai impian terbesarnya tercapai (pada Usahanya). Serta suatu hari usahanya itu dapat memberikan dampak yang besar walaupun mereka sudah tak bekerja lagi.

8. Karyawan Akan Merasa Terancam Akan Kehadiran Orang Pintar, Pengusaha Suka Dengan Orang Pintar dan Memperkerjakannya

Mungkin ada istilah dalam dunia kerja; “Jika Anda bukan Pekerja yang paling keras, Anda harus punya banyak koneksi agar bisa mendaki jenjang karir dengan lebih cepat”.

Ketika ada kehadiran orang lain yang lebih pintar lebih Smart di Perusahaan Anda, Anda mungkin akan merasa/berfikir dia adalah seorang Kompetitoruntuk mendaki puncak karir. Anda bisa jadi merasa tidak senang akan kehadirannya.

Berbeda pada Pengusaha, Ketika mereka bertemu dengan sesorang yang pintar Smart, mereka akan senang, dan mereka akan berfikir dapat memperkerjakan orang tersebut.

Tanpa orang hebat didalam suatau Usaha, suatu Bisnis tidak akan bisa berkembang denagn baik. Idealnya semakin banyak bertemu dengan orang pintar, Pengusaha akan semakin senang karena bisa diajak untuk membangun team yang kuat.

Kesimpulannya

Anda yang saat ini masih bekerja di suatu Perusahaan ataupun perorangan, tidaklah harus keluar secara buru-buru dari pekerjaan Anda sekarang, dan langsung terjun menjadi pengusaha.

Namun yang paling penting adalah mulailah membangun pola pikir yang benar seperti layaknya seorang pengusaha.

Orang sukses biasanya selalu berfikir positif dan enerjik untuk berusaha terus sukses. Sekali lagi, mulai arahkhkan fikiran anda ke hal-hal positif, terus belajar, mencoba sesuatu yang baru, jangan takut gagal, dan berdo’a pada tuhan.

Semoga pembaca yang masih belum memulai usaha, bisa segara mendapat ide dan peluang untuk dijalankan.

Selisih Waktu

Kami memberikan banyak sekali referensi informasi tentang dunia perbedaan dari berbagai kategori seperti; perbedaan waktu, perbedaan hal umum, info teknologi, seputar pendidikan, kuliner dan banyak lagi informasi update lainnya.

Leave a Reply